GOOD BYE

Dari Tinta Sebuah Pena Hitam
Kutuliskan Sebaris Kalimat Panjang
Kuceritakan Sebuah Naskah Drama Kehidupan

Disisi Ujung Pensil Yang Patah
Kusempatkan menggambar sketsa cerita nyata
kusempatkan garis pena berwarna untuk mempercantiknya

Bukan aku sedang menulis cinta
Ataupun aku sedang menuliskan luka lara
Aku sedang bermain ujung pena
kusedang menyelami kehidupan sebenarnya.

Betapa ringkihnya dan murahnya sang air mata jagad manusia
yang ringkih kian menjadi ringkih
Pergilah engkau tanpa gores
ku katakan GOOD BYE padamu 
Padamu Kehidupan Jinggaku.. 

Kutuliskan Welcame padamu rona-rona mentariku
kemari mari kita memulai semuanya dengan do'a dan pengharapan yang baik pula
Mawar Putihku, Hiduplah dalam keabadian jemari Tanganku

ERLIK/Mawar Putih

CINTA ITU BUTA TAPI TAK HARUS "MEMBUTAKAN "

Setiap manusia pernah menjalani kisah yang membuat resah
Gelap pekatnya malam menghadirkan pikiran yang tercecer
Hati yang dikelumuti dilema cinta

Cinta itu meluluhlantahkan logika
logika para pemuja cinta
kita terbodohi dengan kelembutan sementara

Menangis dalam gelapnya malam
merasakan kesakitan hati tak tertahankan
ketika cinta benar-benar membutakan setiap para pemujanya

Kita selalu bilang itu menyakitkan, tapi kita masih selalu bertahan
bertahan dalam pedih-pedih luka membara
Bukankah Cinta Itu Anugrah
Bukankah Cinta Itu Indah
Tatkala cinta tepat pada waktuya dan pada tempatnya

Cinta itu Buta, membutakan mata para pemujanya
dia yang salah tetap dibela
dia yang hina tetap dipuja
dia yang tak pantas menjadi istimewa

Kepada Jagad Pemuja Cinta
Sadarkan dirimu mulai saat ini
Ketika cinta telah benar merusak mata dan telingamu
Keluarkan Logika Dari dasar pikiranmu
Bukankah engkau sangat berharga untuk sekedar memuja cinta

Mawar Putih



Legenda Desa Macan Putih Kecamatan Kabat Kabupaten Banyuwangi “Cerita Prabu Tawang Alun”

\
Legenda Desa Macan Putih Kecamatan Kabat Kabupaten Banyuwangi
 “Cerita Prabu Tawang Alun”
Nama :Narudin 
Umur : 60 taun
Jeni Kelamin: Pria
Pekerjaan:Juru Kunci Petilasan Prabu Tawang Alun.
Bahasa : Jawa-Osing
Alamat : Desa Macan Putih Kecamatan Kabat Kabupaten Banyuwangi
Nama: Drs Sutjiptono
Umur :65 taun
Jenis Kelamin Pria
Pekerjaan: Guru sejarah dan Budaya Daerah Banyuwangi
Alamat : Jajag









LEGENDA  DESA “MACAN PUTIH” KECAMATAN KABAT KABUPATEN BANYUWANGI
“CARITA PRABU TAWANG ALUN”

            Kerajaan Tawang Alun mujudake salah sawijine kerajaan ing talatah Banyuwangi. Mula bukane jeneng Tawang Alun jalaran dipimpin dening Raja Tawang Alun.  Patilisan Macan Putih saiki ana ing desa Macan Putih Kecamatan Kabat kabupaten Banyuwangi.  Miturut bapak Narudin minangka Juru kunci patilasan Prabu Tawang Alun mbabarake carita yen masa kerajaan  Tawang Alun ana ing periode 1655-1691. Masa kejayaane kerajaan Tawang Alun bibar kerajaan Blambangan kang dipimpin dening Raja Minakjingga. Wilayah kekuasane kerajaan Blambangan  punjere ana ing  Srono megidhul – ngulan nganti tekan alas purwa, yen  kakuwasanane Tawang Alun saka daerah Kabat Tekan Banyuwangi kutha,  Prabu Tawang Alun mujudake Ratu kerajaan kang nggugemi banget marang rakyate saengga kerajane bisa loh jinawi,  rakyat tentrem ora kurang pangan.  Mula rakyat pada remen banget kaliyan Prabu Tawang Alun. Bab kana mau  njalari  adhine Tawang Alun  Wira Brata cemburu.  Cemburune Wira Brata  nuwuhake peperangan saudara. Wira Brata nduweni sipat  kebandhing kuwalik kaliyan Prabu Tawang Alun, Wira Brata nduweni sipat kasar lan sekarepe dhewe, Wira Brata kepingin  alih kakuwasaan karo Prabu Tawang Alun, nanging Prabu Tawang Alun wedi yen Wira Brata ora bisa mimpin kerajaane.
Nalika Perang karo Prabu Tawang Alun, Wira Brata dibiyantu  kaliyan Prabu Gingsing, nanging  Wira Brata mati ing tangane Prabu Tawang Alun. Patih Gingsing ora terima, dheweke banjur perang  karo Prabu Tawang Alun.  Pungkasane Prabu Gingsing  ya mati ning  tangan Tawang Alun,
            Perang sedarah kuwi njalari Prabu Tawang Alun getun, Prabu Tawang Alun rumangsa salah  mateni adhine, dheweke dadi murung , mula kuwi prabu Tawang Alun banjur tapa, Prabu Tawang Alun tapa ana ing Gunung Raung.  sasuwene tapa Prabu Tawang alun keprungu swarane wong ngomong “HEI NGER ANAKKU, KOWE KOK KEPENAK-PENAKEN TAPA ING KENE, AGE SADARO MENGKO YEN ANA MACAN PUTIH MLAYU MRENE  KUWI KEWAN KANG BAKAL DADI KEDARAANMU, KENDARAAN SING NGANCANI KOWE SABENDINA”
Keprungu swara kaya mangkan Prabu  Tawang Alun banjur sadar  lan meruhi macan putih sing arep mateni Prabu Tawang Alun, pungkasane Macan Putih kalah lan lulut kaliyan Prabu Tawang Alun.
Nalika lagi mlaku karo Prabu Tawang Alun, Macan Putih mendhek ana ing salah sawijine panggonan desa kang asri,  mula panggonan kuwi dijenengi desa MACAN PUTIH kang ana ing kecamatan Kabat kabupaten Banyuwangi, jeneng Tawang Alun kuwi saiki digawe jeneng desa Tawang Alun ing kecamata Kabat lan didadekake  jeneng terminal Tawang Alun ing kecamatan Genteng. Bapak Narudin babarake yen patilasane kuwi ditemokake tahun 1964 liwat si mbahe bapak Narudin. Bapak Narudi mujudake juru kunci no 2 bibar bapake amarga juru kuncinepun dilakoni turun tinurun  

TRADISI PETIK LAUT PANTAI MUNCAR KABUPATEN BANYUWANGI


Dalam tiap bulan Muharam atau Syuro dalam penanggalan Jawa, bukan hanya petani, nelayan pun menggelar ritual untuk memohon berkah rezeki dan keselamatan. Waktu pelaksanaan petik laut tiap tahun berubah karena berdasarkan penanggalan Qamariah dan kesepakatan pihak nelayan. Biasanya digelar saat bulan purnama, karena nelayan tidak melaut, mengingat pada saat itu terjadi air laut pasang
Tujuan utama diadakannya ritual petik laut adalah untuk untuk memohon berkah rezeki dan keselamatan sekaligus ungkapan terima kasih kepada Tuhan.
Di Muncar ( sekitar 35 kilometer dari kota Banyuwangi ), ritual ini berkembang setelah kehadiran warga Madura yang terkenal sebagai pelaut. Tak mengherankan, jika petik laut selalu dipenuhi ornamen suku Madura. Salah satunya, seragam pakaian Sakera, baju hitam dan membawa clurit, simbol kebesaran warga Madura yang pemberani.
Seragam Sakera tersebut disiapkan khusus untuk upacara dan hanya dipakai sekali, jika ada upacara adat lain atau petik laut tahun depan, seragam harus dibuat lagi ,demi ke-sakralan upacara. Petugas Sakera dipilih yang berbadan besar. Biasanya mereka berpenampilan sangar dan angker. Dengan kumis tebal dan gelang besar, Sakera juga diharuskan berpenampilan lucu.
Sakera juga menjadi pengaman jalanya ritual. Mereka selalu berjalan di depan mengawal sesaji dari lokasi upacara ke tengah laut. Mereka mengatur warga yang ingin berebut naik perahu. Sakera mirip Pecalang di Bali. Sesepuh adat juga mengenakan baju Sakera, serba hitam. Bagian dalam kaus loreng merah putih. Udengnya batik merah tua.
Bagi nelayan Muncar, petik laut adalah gawe besar yang tidak boleh ditinggalkan. Hari yang dipilih bulan purnama Warga pantai Muncar masih merupakan orang jawa yang selalu menggunakan perhitungan dalam segala hal, maka tanggal, bulan masih ditentukan karena merupakan hitungan dari nenek moyang atau leluhur sebagai pusat kepercayaan, maka dengan dasar seperti itu tanggal pethik laut ditentukan, tepat tanggal 15 di penanggalan Jawa

Prosesi Ritual Petik Laut

Ritual diawali pembuatan sesaji oleh sesepuh nelayan. Mereka adalah keturunan warga Madura yang sudah ratusan tahun turun-temurun mendiami pelabuhan Muncar. Disiapkan perahu kecil ( perahu sesaji ) dibuat seindah mungkin mirip kapal nelayan yang biasa digunakan melaut. Pada malam harinya, di tempat perahu untuk sesaji dipersiapkan dilakukan tirakatan. Di beberapa surau atau rumah diadakan pengajian atau semaan sebelum perahu sesaji dilarung ke laut.
Perahu diisi puluhan jenis hasil bumi dan makanan yang seluruhnya dimasak keluarga sesepuh adat. Jenis makanan berbagai jajanan, nasi tumpeng dan buah-buahan, ditata rapi di perahu kecil tadi. Sesaji yang sudah jadi disebut gitek.
Pada hari yang ditentukan, ratusan nelayan berkumpul di rumah sesepuh adat sejak pagi. Mereka menggunakan baju khas Madura sambil membawa senjata clurit. Menjelang siang, sesaji diarak menggunakan dokar menuju pantai. Sepanjang iring-iringan, dua penari Gandrung ikut mendampingi. Bunyi gamelan Gandrung mengalun indah.
Nelayan menari sambil mengacungkan senjata cluritnya. Di depannya, dukun membawa abu kemenyan. Sambil melantunkan doa, dukun menyebarkan beras kuning simbol tolak bala.
Ribuan warga berdiri di sepanjang jalan mengamati perjalanan sesaji ( ider bumi ). Begitu lewat, warga berhamburan mengikuti di belakang menuju pantai. Arak-arakan berakhir di tempat pelelangan ikan ( TPI ), yang dihadiri jajaran Muspida Banyuwangi dan pejabat setempat.
Sesaji tiba disambut enam penari Gandrung. Setelah doa, sesaji diarak menuju perahu. Warga berebut untuk bisa naik perahu pengangkut sesaji. Namun, petugas membatasi penumpang yang ikut ke tengah.

Sebelum diberangkatkan, kepala daerah diwajibkan memasang pancing emas di lidah kepala kambing. Ini simbol permohonan nelayan agar diberi hasil ikan melimpah.
Menjelang tengah hari, iring-iringan perahu bergerak ke laut. Bunyi mesin diesel menderu membelah ombak. Suara gemuruh lewat sound-system menggema di tiap perahu.
Dari kejauhan barisan perahu berukuran besar bergerak kencang. Hiasan umbul-umbul berkibar menambah suasana makin sakral. Begitu padatnya perahu yang bergerak, sempat terjadi beberapa kali tabrakan kecil.
Iring-iringan berakhir di sebuah lokasi berair tenang, dekat semenanjung Sembulungan. Kawasan ini sering disebut Plawangan. Seluruh perahu berhenti sejenak. Dipimpin sesepuh nelayan, sesaji pelan-pelan diturunkan dari perahu. Teriakan syukur menggema begitu sesaji jatuh dan tenggelam ditelan ombak.
Begitu sesaji tenggelam, para nelayan berebut menceburkan diri ke laut. Mereka berebut mendapatkan sesaji. Nelayan juga menyiramkan air yang dilewati sesaji ke seluruh badan perahu. "Kami percaya air ini menjadi pembersih malapetaka dan diberkati ketika melaut nanti," kata Mat Roji, sesepuh nelayan Muncar.
Dari Plawangan, iring-iringan perahu bergerak menuju Sembulungan. Di tempat ini, nelayan kembali melarung sesaji ke dua kalinya. Hanya, jumlahnya lebih sedikit. Sebuah sasaji ditempatkan di nampan bambu dilarung pelan-pelan. Konon ini memberikan persembahan bagi penunggu tanjung Sembulungan.
Selesai larung sesaji, pesta nelayan dilanjutkan di pantai  Sembulungan. , ke Makam Sayid Yusuf, beliau adalah orang pertama yang membuka daerah tersebut. Disinilah biasanya tari Gandrung dan gending-gending klasik suku Using di pentaskan, hingga sore hari. Di tempat ini para nelayan juga mempersembahkan sesaji. Ritual diakhiri selamatan dan doa bersama.
Ritual petik laut wajib menghadirkan dua penari Gandrung yang masih perawan. Konon, ini berkaitan ritual petik laut pertama kali di Tanjung Sembulungan. Kala itu, seorang penari Gandrung mendadak meninggal dan dimakamkan di pinggir pantai. Sejak itu, petik laut wajib menghadirkan penari Gandrung. Memilih penari Gandrung yang berani ikut ke tengah laut dan mendampingi sesaji tidak gampang dan melalui seleksi khusus. Gandrung yang ikut mengarak sesaji hanya boleh sekali diundang. Tahun berikutnya akan diganti Gandrung lain.
Di sepanjang perjalanan, di atas perahu penari terus melenggang diiringi gamelan. Mereka melantunkan gending-gending Using. Isinya ungkapan suka-cita perayaan petik laut. Puluhan nelayan yang mengiringi gandrung ikut menari di atas perahu.
Biasanya sepulang pulang dari sembulungan perahu nelayan yang akan mendarat di guyur dengan air laut yang di gambarkan sebagai guyuran Shang Hyang Iwak, sebagai Dewi laut.
Tanggapan masyarakat sekitar dan warga pantai muncar bersifat positif, mereka setuju karena mereka percaya bila tidak melakukan tradisi tersebut alam akan marah dan tidak lagi memberikan hasil yang melimpah ruah. Maka tradhisi ini dilakukan setiap tahun tepat bulan sura.
            Dari laporan diatas dapat disimpulkan bahwa tradisi petik laut yang dilakukan di Pantai Muncar merupakan sebuah tradisi turun temurun, jika mereka tidak melakukan tradisi tersebut mereka percaya adanya naas atau bencana yang akan terjadi didalam desa tersebut, tanggal dan bulan itu merupan hari yang telah ditentukan oleh nenek moyang. Adapun tujuan dari tradisi tersebut adalah agar alam tetep memberikan hasil yang merimpah ruah, adapun alam agar tetap terjaga kelestarianya.


 erlik citra budiarti