Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Unknown
Artikel
Legenda Desa Macan Putih Kecamatan Kabat Kabupaten Banyuwangi “Cerita Prabu Tawang Alun”
\
Legenda Desa Macan Putih Kecamatan Kabat Kabupaten
Banyuwangi
“Cerita Prabu Tawang Alun”
|
LEGENDA DESA “MACAN
PUTIH” KECAMATAN KABAT KABUPATEN BANYUWANGI
“CARITA PRABU TAWANG ALUN”
Kerajaan Tawang Alun mujudake salah sawijine kerajaan ing
talatah Banyuwangi. Mula bukane jeneng Tawang Alun jalaran dipimpin dening Raja
Tawang Alun. Patilisan Macan Putih saiki
ana ing desa Macan Putih Kecamatan Kabat kabupaten Banyuwangi. Miturut bapak Narudin minangka Juru kunci
patilasan Prabu Tawang Alun mbabarake carita yen masa kerajaan Tawang Alun ana ing periode 1655-1691. Masa
kejayaane kerajaan Tawang Alun bibar kerajaan Blambangan kang dipimpin dening Raja
Minakjingga. Wilayah kekuasane kerajaan Blambangan punjere ana ing Srono megidhul – ngulan nganti tekan alas
purwa, yen kakuwasanane Tawang Alun saka
daerah Kabat Tekan Banyuwangi kutha, Prabu Tawang Alun mujudake Ratu kerajaan kang
nggugemi banget marang rakyate saengga kerajane bisa loh jinawi, rakyat tentrem ora kurang pangan. Mula rakyat pada remen banget kaliyan Prabu Tawang
Alun. Bab kana mau njalari adhine Tawang Alun Wira Brata cemburu. Cemburune Wira Brata nuwuhake peperangan saudara. Wira Brata nduweni
sipat kebandhing kuwalik kaliyan Prabu Tawang
Alun, Wira Brata nduweni sipat kasar lan sekarepe dhewe, Wira Brata kepingin alih kakuwasaan karo Prabu Tawang Alun,
nanging Prabu Tawang Alun wedi yen Wira Brata ora bisa mimpin kerajaane.
Nalika
Perang karo Prabu Tawang Alun, Wira Brata dibiyantu kaliyan Prabu Gingsing, nanging Wira Brata mati ing tangane Prabu Tawang Alun.
Patih Gingsing ora terima, dheweke banjur perang karo Prabu Tawang Alun. Pungkasane Prabu Gingsing ya mati ning tangan Tawang Alun,
Perang sedarah kuwi njalari Prabu Tawang Alun getun,
Prabu Tawang Alun rumangsa salah mateni
adhine, dheweke dadi murung , mula kuwi prabu Tawang Alun banjur tapa, Prabu Tawang
Alun tapa ana ing Gunung Raung. sasuwene
tapa Prabu Tawang alun keprungu swarane wong ngomong “HEI NGER ANAKKU, KOWE KOK
KEPENAK-PENAKEN TAPA ING KENE, AGE SADARO
MENGKO YEN ANA MACAN PUTIH MLAYU MRENE KUWI KEWAN KANG BAKAL DADI KEDARAANMU,
KENDARAAN SING NGANCANI KOWE SABENDINA”
Keprungu
swara kaya mangkan Prabu Tawang Alun banjur
sadar lan meruhi macan putih sing arep
mateni Prabu Tawang Alun, pungkasane Macan Putih kalah lan lulut kaliyan Prabu Tawang
Alun.
Nalika
lagi mlaku karo Prabu Tawang Alun, Macan Putih mendhek ana ing salah sawijine
panggonan desa kang asri, mula panggonan
kuwi dijenengi desa MACAN PUTIH kang ana ing kecamatan Kabat kabupaten
Banyuwangi, jeneng Tawang Alun kuwi saiki digawe jeneng desa Tawang Alun ing
kecamata Kabat lan didadekake jeneng
terminal Tawang Alun ing kecamatan Genteng. Bapak Narudin babarake yen
patilasane kuwi ditemokake tahun 1964 liwat si mbahe bapak Narudin. Bapak
Narudi mujudake juru kunci no 2 bibar bapake amarga juru kuncinepun dilakoni
turun tinurun
Rabu, 16 April 2014
Unknown
Artikel
TRADISI PETIK LAUT PANTAI MUNCAR KABUPATEN BANYUWANGI
Dalam tiap bulan Muharam atau Syuro dalam penanggalan
Jawa, bukan hanya petani, nelayan pun menggelar ritual untuk memohon berkah
rezeki dan keselamatan. Waktu pelaksanaan petik laut tiap tahun berubah karena
berdasarkan penanggalan Qamariah dan kesepakatan pihak nelayan. Biasanya
digelar saat bulan purnama, karena nelayan tidak melaut, mengingat pada saat
itu terjadi air laut pasang
Tujuan utama diadakannya ritual
petik laut adalah untuk untuk memohon berkah rezeki dan keselamatan sekaligus
ungkapan terima kasih kepada Tuhan.
Di Muncar ( sekitar 35
kilometer dari kota Banyuwangi ), ritual ini berkembang setelah kehadiran warga
Madura yang terkenal sebagai pelaut. Tak mengherankan, jika petik laut selalu
dipenuhi ornamen suku Madura. Salah satunya, seragam pakaian Sakera, baju hitam
dan membawa clurit, simbol kebesaran warga Madura yang pemberani.
Seragam Sakera
tersebut disiapkan khusus untuk upacara dan hanya dipakai sekali, jika ada
upacara adat lain atau petik laut tahun depan, seragam harus dibuat lagi ,demi
ke-sakralan upacara. Petugas Sakera dipilih yang berbadan besar. Biasanya
mereka berpenampilan sangar dan angker. Dengan kumis tebal dan gelang besar,
Sakera juga diharuskan berpenampilan lucu.
Sakera juga menjadi
pengaman jalanya ritual. Mereka selalu berjalan di depan mengawal sesaji dari
lokasi upacara ke tengah laut. Mereka mengatur warga yang ingin berebut naik
perahu. Sakera mirip Pecalang di Bali. Sesepuh adat juga mengenakan baju
Sakera, serba hitam. Bagian dalam kaus loreng merah putih. Udengnya batik merah
tua.
Bagi nelayan Muncar,
petik laut adalah gawe besar yang tidak boleh ditinggalkan. Hari yang dipilih
bulan purnama Warga pantai Muncar masih merupakan orang jawa yang
selalu menggunakan perhitungan dalam segala hal, maka tanggal, bulan masih
ditentukan karena merupakan hitungan dari nenek moyang atau leluhur sebagai
pusat kepercayaan, maka dengan dasar seperti itu tanggal pethik laut ditentukan, tepat tanggal 15 di penanggalan Jawa
Prosesi Ritual Petik Laut
Ritual diawali
pembuatan sesaji oleh sesepuh nelayan. Mereka adalah keturunan warga Madura
yang sudah ratusan tahun turun-temurun mendiami pelabuhan Muncar. Disiapkan
perahu kecil ( perahu sesaji ) dibuat seindah mungkin mirip kapal nelayan yang
biasa digunakan melaut. Pada malam harinya, di tempat perahu untuk sesaji
dipersiapkan dilakukan tirakatan. Di beberapa surau atau rumah diadakan
pengajian atau semaan sebelum perahu sesaji dilarung ke laut.
Perahu diisi puluhan
jenis hasil bumi dan makanan yang seluruhnya dimasak keluarga sesepuh adat.
Jenis makanan berbagai jajanan, nasi tumpeng dan buah-buahan, ditata rapi di
perahu kecil tadi. Sesaji yang sudah jadi disebut gitek.
Pada hari yang
ditentukan, ratusan nelayan berkumpul di rumah sesepuh adat sejak pagi. Mereka
menggunakan baju khas Madura sambil membawa senjata clurit. Menjelang siang,
sesaji diarak menggunakan dokar menuju pantai. Sepanjang iring-iringan, dua
penari Gandrung ikut mendampingi. Bunyi gamelan Gandrung mengalun indah.
Nelayan menari sambil
mengacungkan senjata cluritnya. Di depannya, dukun membawa abu kemenyan. Sambil
melantunkan doa, dukun menyebarkan beras kuning simbol tolak bala.
Ribuan warga berdiri
di sepanjang jalan mengamati perjalanan sesaji ( ider bumi ). Begitu lewat,
warga berhamburan mengikuti di belakang menuju pantai. Arak-arakan berakhir di
tempat pelelangan ikan ( TPI ), yang dihadiri jajaran Muspida Banyuwangi dan
pejabat setempat.
Sesaji tiba disambut
enam penari Gandrung. Setelah doa, sesaji diarak menuju perahu. Warga berebut
untuk bisa naik perahu pengangkut sesaji. Namun, petugas membatasi penumpang
yang ikut ke tengah.
Sebelum
diberangkatkan, kepala daerah diwajibkan memasang pancing emas di lidah kepala
kambing. Ini simbol permohonan nelayan agar diberi hasil ikan melimpah.
Menjelang tengah
hari, iring-iringan perahu bergerak ke laut. Bunyi mesin diesel menderu
membelah ombak. Suara gemuruh lewat sound-system menggema di tiap perahu.
Dari kejauhan barisan
perahu berukuran besar bergerak kencang. Hiasan umbul-umbul berkibar menambah
suasana makin sakral. Begitu padatnya perahu yang bergerak, sempat terjadi
beberapa kali tabrakan kecil.
Iring-iringan
berakhir di sebuah lokasi berair tenang, dekat semenanjung Sembulungan. Kawasan
ini sering disebut Plawangan. Seluruh perahu berhenti sejenak. Dipimpin sesepuh
nelayan, sesaji pelan-pelan diturunkan dari perahu. Teriakan syukur menggema
begitu sesaji jatuh dan tenggelam ditelan ombak.
Begitu sesaji
tenggelam, para nelayan berebut menceburkan diri ke laut. Mereka berebut
mendapatkan sesaji. Nelayan juga menyiramkan air yang dilewati sesaji ke
seluruh badan perahu. "Kami percaya air ini menjadi pembersih malapetaka
dan diberkati ketika melaut nanti," kata Mat Roji, sesepuh nelayan Muncar.
Dari Plawangan,
iring-iringan perahu bergerak menuju Sembulungan. Di tempat ini, nelayan
kembali melarung sesaji ke dua kalinya. Hanya, jumlahnya lebih sedikit. Sebuah
sasaji ditempatkan di nampan bambu dilarung pelan-pelan. Konon ini memberikan
persembahan bagi penunggu tanjung Sembulungan.
Selesai larung
sesaji, pesta nelayan dilanjutkan di pantai Sembulungan. , ke Makam Sayid
Yusuf, beliau adalah orang pertama yang membuka daerah tersebut. Disinilah
biasanya tari Gandrung dan gending-gending klasik suku Using di pentaskan,
hingga sore hari. Di tempat ini para nelayan juga mempersembahkan sesaji.
Ritual diakhiri selamatan dan doa bersama.
Ritual petik laut
wajib menghadirkan dua penari Gandrung yang masih perawan. Konon, ini berkaitan
ritual petik laut pertama kali di Tanjung Sembulungan. Kala itu, seorang penari
Gandrung mendadak meninggal dan dimakamkan di pinggir pantai. Sejak itu, petik
laut wajib menghadirkan penari Gandrung. Memilih penari Gandrung yang berani
ikut ke tengah laut dan mendampingi sesaji tidak gampang dan melalui seleksi
khusus. Gandrung yang ikut mengarak sesaji hanya boleh sekali diundang. Tahun
berikutnya akan diganti Gandrung lain.
Di sepanjang
perjalanan, di atas perahu penari terus melenggang diiringi gamelan. Mereka
melantunkan gending-gending Using. Isinya ungkapan suka-cita perayaan petik
laut. Puluhan nelayan yang mengiringi gandrung ikut menari di atas perahu.
Biasanya sepulang
pulang dari sembulungan perahu nelayan yang akan mendarat di guyur dengan air
laut yang di gambarkan sebagai guyuran Shang Hyang Iwak, sebagai Dewi laut.
Tanggapan masyarakat
sekitar dan warga pantai muncar bersifat positif, mereka setuju karena mereka
percaya bila tidak melakukan tradisi tersebut alam akan marah dan tidak lagi
memberikan hasil yang melimpah ruah. Maka tradhisi ini dilakukan setiap tahun
tepat bulan sura.
Dari laporan diatas dapat
disimpulkan bahwa tradisi petik laut yang dilakukan di Pantai Muncar merupakan
sebuah tradisi turun temurun, jika mereka tidak melakukan tradisi tersebut
mereka percaya adanya naas atau bencana yang akan terjadi didalam desa tersebut,
tanggal dan bulan itu merupan hari yang telah ditentukan oleh nenek moyang.
Adapun tujuan dari tradisi tersebut adalah agar alam tetep memberikan hasil
yang merimpah ruah, adapun alam agar tetap terjaga kelestarianya.
erlik citra budiarti
Selasa, 15 April 2014
Unknown
Artikel
TRADHISI MANTENAN “ADU TUMPER” ING KABUPATEN BANYUWANGI
Nama :
Erlik Citra Budiarti
Nim :
102114234
Kelas :
2010B
TRADHISI
MANTENAN “ADU TUMPER” ING KABUPATEN BANYUWANGI
Saka
tembung “adu” lan tumper, ing Banyuwangi “adu” tegese diadu utawa ditepangake
antarane kekarone “tumper” yaiku bara api ing sebatang kayu bakar sing digawe
gendhok kang diarani bongkok, Adu tumper yaiku nglebokake rong tumper utawa
bongkok kasebut dilebukake wadah lan diobong.
Adu
tumper nduweni teges yaiku tetepangane perjaka kaliyan perawan, prosesi adu
tumper dilakoni kaliyan manten kang nduweni status anak mbarep. Adu tumper
dilakoni sawise akad nikah wektu surup
Prosesi Adu Tumper ing antarane yaiku
1. Persiapane Manten
Kanthi
Musik Khas Banyuwangi miwiti prosesi Adu tumper, Perias nyipakake perlatan ing
sawijine adah kang isine kembang setaman kang dijangkepi kaliyan suwer
penyiram, tumper, perepen lan kain lawon utawa kafan, sepasang kelapa gadhing
kang ana ukirane Rama kaliyan Shinta, sapasang colok lan kupat luwar, beras
kuning poletan, buras kuning kanthi dhuwit logam lan blencong sawise kabeh kuwi
jangkep keprungu swaara hadrah pratanda iringane manten lanang, banjur manten
putri nyipakake awak.
2. Tekane Manten Lanang
Iring-iringane
manten lanang diwiwiti kaliyan tarian
rondat nari sadawane dalan kanthi gerakan khusus seangga bentuk dalan anatarane
manten lanang lan wadon saka mburi
ditutne manten lanang saka tandu, perlengkapan kaya peningset, rampadan, bokor
kendi, bantal klasa, pikulan punjeng, tumper lan ana perwakilan saka manten
lanang kayata pakdhe lan budhene lan ing burine penari rodat, wektu manten lanang teka manten
wadon nemoni manten lanang lan milu munggah tandu banjur dikirap.
3. Aktrasi Kekaro Pawang
Sawise
kirap rampung, lan dilanjutake kaliyan
aktrasi kekaro pawang, kekaro pawang makili wong tuwa manten lanang lan wadon
minangka penemu.
4. Acara Temon
Ing
acara iki pawang dipimpin kaliyan juru rias nemokake kekaro mempelai minangka
tetepangane kekaro manten lanang lan wadon kanthi nemokake jempolan sikil
kanthi mempelai sinimabi didogani.
5. Acara salam Kobul
Sawise
acara temon banjur diterusakake kanthi acara Salam Kobul dipimpin kaliyan juru
rias, kekaro mantenan nyuwun do’a restu marang wong tuwane (sungkem) kanthi
nyuwun do’a restu supaya dikabulne kakarepane.
6. Acara Kupat Luwar
Kekaro
wong tuwa nglakoni acara iki kanthi bathek ujung ketupat, ketupat kuwi isine
beras kuning supaya kebukak lan beras kuning kuwi semburat, kanthi kupat luwar
tujuwane “ngluwar” yaiku bikak kabeh
kang katutup lan tujuwane ngilangi kabeh balak sadurunge bukak urip bebrayan.
7. Acara Ngosek Pojen
Acara
iki dilakoni kanthi cara, salah sawijine pawang depek kain lawon kang digawe
gendhong pujen , ing ngarep pelaminan didepekne amba, banjur manten adep-adepan
ing ngarepe lawon lan ditutake kaluwargane, salah sawijine pawang depekake isi
kantongan kasebut isine sandak salawe lan ndhuwit asile mupu ing kain lawon
dikosek munyer
8. Adu tumper
Acara
iki yaiku acara pokok yaiku nepangake kekalih tumper ing bara apine banjur dipateni kathi banyu
kembang setaman “suwur” adat menika nglambagake supaya kekaro manten bisa
nyawijikake pambedha sajrone urip bebrayan.
9. Acara Poletan
Sawise
adu tumper banjur nganakake acara
poletan yaiku mempoleskan campuran tepung beras kuning kang wis disipake lan
diolesake menyang sikile manten lanang lan wadon pratanda manten lanang lan
wadon sah dadi suami-istri
10.
Nglangkahi
Tumper
Kekaro
mempelai mlaku jejer nglangkahi tumper
mlaku menyang pelaminan lungguh bareng minangka raja lan putri ngergani tamu
undangan
30 04 2013 (Tugas Akhir Tradhisi Jawa Semester 6)
Sabtu, 12 April 2014
Unknown
Artikel
SUMUR RANDU 3 UTAWA SUMUR AJAIB Ing Desa Sumberasri . Kec Purwoharjo Kab . Banyuwangi
Nama : Erlik Citra Budiarti ( 102114234)
Kelas : 2010 B
SUMUR
RANDU 3 UTAWA
SUMUR AJAIB
Ing
Desa Sumberasri . Kec Purwoharjo Kab . Banyuwangi
Papan wisata bedhul menika yaiku papan
kang isih anyar ing provinsi Jawa Timur . Papan menika kang kasebut “wisata
bedhul “ utawi “Hutan magrove”
Papan wisata bedhul menika wonten ing
Dsn. Bloksolo Desa Sumberasri Kec. Purwoaharjo Kab. Banyuwangi. Kathah tiyang
kang nekani wisata menika kanggo ngrasake endahing wisata menika.
Kejaba pangenan kang asri lan endah,
ing sisih pojok kiwane wisata bedhul menika wonten sumur kang bisa diarani sumur
randu 3. Sumur kang dibagun saking
pengeboran sasuwene 3 dina lan ana ing ngisore wit randu cacahe 3 . Mula dijenengi sumur randu 3. Tujuwanipun
bangun sumur menika yaiku perlangkapanipun wisata, lan panggenan wudhu . Sumur kang dibangun 3. Mula dijenengi Sumur Randu 3 tahun 2009. Wiwitan sumur menika namung kanggo sarana – prasarana wisata bedhul, nanging salah sawijine dina wonten salah
suji masyarakat kang nunut adhus, tiyang menika crita yen anduweni lara
“asam Urat” saksampunipun adhus nganggo banyu sumur menika, tiyang niku kandha
yen dheweke ngarasake kapenak banjur waras.saksampunipin kadadeyan menika salah
sijine warga kang sampun nginakaken banyu sumur iku nyembaraken keajaibane
sumur menika (kandhane salah suwijine penjaga wisata ).
Saksampunimpun kadadeyan menika
wartanipun sumebar ing daerah liya. Kathah masyarakat pada nekani lan
ngarasakake manfaate sumur menika, mangka sumur menika , pupuler jenenge sumur
Ajaib amergi bisa marasake penyakit – peyakait utamaning lara Gatel – gatel.
Yen banyu iki bener – bener gawe waras mangka , tiyang – tiyang menika nyukani
artha ing kotak amal, miturut salah suwijine panjaga wisata menika kathah
ingkang nyukani artha lan kathah ingkang waras saksampunimpun ngango banyu
kasebut. Saka Sumbangan Banyu menika
sumur ajaib saged agsal 500.000/ minggu
Miturut salah suwijining penjaga pantai , Sumur iki isih dadi misteri amergi apa pancen bener – bener sumur iki ajaib utawi asil alami saka kakeyaane alam amergi kita inggih magertosi yen panggenan sumur menika wonten ing alas baku dados kathah miniral kang kinandhut saka banyu kasebut.
DITULIS 26 DESEMBER 2011 (TUGAS AKHIR SEMESTER 3)
Unknown
Artikel
Umpak Songo Yang Terlupakan Muncar Banyuwangi
Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, memiliki situs sejarah yang diyakini berkaitan erat dengan kerajaan Blambangan. Sebut saja seperti situs Umpak Songo. Situs Setinggil. Bale Kambang dan Gumuk Sepur.
Selain situs-situs itu, tak terhitung pula banyak warga yang menemukan berbagai benda-benda purbakala, aneka keramik,patung, uang kuna dan segala benda yang berkaitan sebagai petujuk adanya kehidupan masa kuna.
sayangya kekayaan sejarah itu dalam kondisi yang menghawatirkan. Keberadaan situs-situs terancam oleh tingkah laku manusia yang mengubah fungsinya menjadi pemukiman dan pertanian. Benda-benda purbakala juga diperjual belikan secara bebas. namun kita belum melihat adanya perhatian dari Pemerintah Banyuwangi.
Dari banyaknya situs sejarah di Kecamatan Muncar. penulis hanya menekankan pada situs Umpak Songo, yang terletak di desa Tembokrejo. Muncar Banyuwangi. Situs Umpak Songo salah satu situs peninggalan jejak fisik kehidupan kuna. Situs Umpak Songo terdiri dari puluhan batu-batu besar yang tertata rapi membentuk persegi. Batu-batu itu ada yang berlubang ditengahnya ada yang pepat.
Disebut Umpak Songo berasal dari kata Umpak yang berati penyangga dan songo berati sembilan. sehingga umpak songo berati pula penyangga yang berjumlah sembilan. Nama Umpak Songo diambil setelah ditemukanya batu besar yang berlubang ditengahnya, Lubang inilah yang digunakan untuk menancapkan bangunan.
Juru kunci situs Umpak Songo, Mbah Soimin bercerita sekitar tahun 1916 seorang bernama Mbah Nadi Gede dari Yogyakarta membabat tempat ini, tempat ini awal mulanya adalah hutan, setelah dibabt terlihatlah situs ini,
Tahun 1928 datang seorang raja dari Solo, Mangku Bumu IX yang mengungkapkan bahwa tempat yang ditemukan Mbah Nadi Gede itu merupakan sisa-sisa kerajaan Blambangan, Mangkubumi IX yang kemudian datang memberikan nama Umpak Songo.
Ketika Kerajaan Blambangan masih berjaya, situs seluas 30x20 meter ini diyakini berfungsi sebagai tempat untuk merundingkan segala sesuatu strategi perang yang akan digunakan untuk menyerang kerajaan lain. dulu tempat ini adalah pusat kerajaan Blambangan. Kata Soinim keturunan ketiga Mbah Nadi Gede.
Menurut Penelitu dari Universitas Gajah Mada Yogyakarta, Sri Margana, ibu kota kerajaan Blambangan dulunya berpidah sampai enam kali. Muncar, menjadi ibu kota pemerintah terakhir sebelum akhirnya dipindahan ke kota Banyuwangi (Majalah Tempo, 13 September 2010).
Perpindahan ini akibat mewabahnya penyakit yang menyerang ibu kota Blambangan sebelumnya di Lateng (Rogojampi). Alasan lainya Muncar dianggap strategis karena memiliki Pelabuhan Pampang, sebuah pelabuhan Internasional yang ramai dikunjungi pedagang dari luar daerah. Namun karena akhirnya penyakit itu menular dan mewabah, ibu kota Blambangan yang saat itu dipimpin Mas Alit, Pindah ke Banyuwangi 21 September 1774.
Puncak keramaian situs Umpak Songo adalah ketika hari raya Kuningan. Banyak umat Hindu yang datang berkunjung untuk melakukan persembahyangan .dan setiap Sabtu Pahing, warga sekitar Umpak Songo menggelar ritual berupa tirakatan semalam suntuk, Ritual ini digunakan untuk meminta berkah keslamatan.
Umpak Songo baru sekali direnovasi yang dilakukan pada masa Bupati Ratna Ani Lestari berupa pembangunan gerbang atau benteng yang membatasi situs Umpak Songo.
Ayo Nguri-Uri Peninggalan Kerajaan Blambangan
Unknown
Artikel
Asal-usul Kesenian Barong Kemiren
Barong mujudake salah sawijine kabudayan kang isih ngrembaka ing Banyuwangi mligine desa Kemiren. Era globalisasi ora ngowahi masyarakat kemiren nyengkuyung kabudayan kang wis dadi turun temurun. Barong Kemiren nduweni wujud kaya ta kewan kang nduweni rupa ala. Barong Kemiren mujudake simbolik urip masyarakat kemiren.
Miturut salah sawijine budayan Banyuwangi Hasnah Singodimayan mula bukane Barong Kemiren saka carita nene moyang rikala biyen. ing jaman biyen ana pawongan ayu asamane Ja'rifah. Ja'rifah minangka pawongan kang rupane ayu, mula akeh wong sing nggoda. amarga rupane sing ayu kuwi mula Ja'rifah dijaga karo Barong. Barong mujudake kewan sing rupane ala, krana rupane ala akeh sing wedi, senajan ala barong nduweni rasa welas asih, jaga Ja'rifah. Mula Barong diarani simbol kepahlawanan
Yen miturut Ki Galih Kidung mula bukane barong Kemiren saka tradhisi Cina. Ing abad VII nganti abad X barong china mlebu ing jaman Majapahit. Barong Kemiren isih kabur asal usule. Akeh masyarakat mangerteni yen Barong kuwi mujudake kesenian khas Bali. Senajan Banyuwangi nduweni kesenian Barong, kuwi isih ana sesambungane karo tlatah Bali.
Crita liya ngenani mula bukane Barong Kemiren saka Bapak Sujipta guru kesenian SMA Negeri 1 Purwoharjo. Miturut bapak Sujipta ing tahun1647, ana pawongan kanthi asma mbah Tompo kag ngimpi njaluk digawekne barong. Mimpi iku dianggpe pitutur ghoib. Sesuke Mbah Tompo karo Mbah Shoib nggawe Barong bareng.
Saka carita-carita kana mau mula Barong dianggep warisan lelehur. Nganti saiki Barong isih diuri-uri ing masyrakat Kemiren. Kesenian Barong dianggep isih ana sesambungane karo patilasae mbah Chili. Mbah Chili mujudake pawongan kang babat alas desa Kemiren. Mula Barong Kemiren isih dibabar ing acara ritual Ider Bumi saben sasi Syawal.
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)




