Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Legenda Desa Macan Putih Kecamatan Kabat Kabupaten Banyuwangi “Cerita Prabu Tawang Alun”

\
Legenda Desa Macan Putih Kecamatan Kabat Kabupaten Banyuwangi
 “Cerita Prabu Tawang Alun”
Nama :Narudin 
Umur : 60 taun
Jeni Kelamin: Pria
Pekerjaan:Juru Kunci Petilasan Prabu Tawang Alun.
Bahasa : Jawa-Osing
Alamat : Desa Macan Putih Kecamatan Kabat Kabupaten Banyuwangi
Nama: Drs Sutjiptono
Umur :65 taun
Jenis Kelamin Pria
Pekerjaan: Guru sejarah dan Budaya Daerah Banyuwangi
Alamat : Jajag









LEGENDA  DESA “MACAN PUTIH” KECAMATAN KABAT KABUPATEN BANYUWANGI
“CARITA PRABU TAWANG ALUN”

            Kerajaan Tawang Alun mujudake salah sawijine kerajaan ing talatah Banyuwangi. Mula bukane jeneng Tawang Alun jalaran dipimpin dening Raja Tawang Alun.  Patilisan Macan Putih saiki ana ing desa Macan Putih Kecamatan Kabat kabupaten Banyuwangi.  Miturut bapak Narudin minangka Juru kunci patilasan Prabu Tawang Alun mbabarake carita yen masa kerajaan  Tawang Alun ana ing periode 1655-1691. Masa kejayaane kerajaan Tawang Alun bibar kerajaan Blambangan kang dipimpin dening Raja Minakjingga. Wilayah kekuasane kerajaan Blambangan  punjere ana ing  Srono megidhul – ngulan nganti tekan alas purwa, yen  kakuwasanane Tawang Alun saka daerah Kabat Tekan Banyuwangi kutha,  Prabu Tawang Alun mujudake Ratu kerajaan kang nggugemi banget marang rakyate saengga kerajane bisa loh jinawi,  rakyat tentrem ora kurang pangan.  Mula rakyat pada remen banget kaliyan Prabu Tawang Alun. Bab kana mau  njalari  adhine Tawang Alun  Wira Brata cemburu.  Cemburune Wira Brata  nuwuhake peperangan saudara. Wira Brata nduweni sipat  kebandhing kuwalik kaliyan Prabu Tawang Alun, Wira Brata nduweni sipat kasar lan sekarepe dhewe, Wira Brata kepingin  alih kakuwasaan karo Prabu Tawang Alun, nanging Prabu Tawang Alun wedi yen Wira Brata ora bisa mimpin kerajaane.
Nalika Perang karo Prabu Tawang Alun, Wira Brata dibiyantu  kaliyan Prabu Gingsing, nanging  Wira Brata mati ing tangane Prabu Tawang Alun. Patih Gingsing ora terima, dheweke banjur perang  karo Prabu Tawang Alun.  Pungkasane Prabu Gingsing  ya mati ning  tangan Tawang Alun,
            Perang sedarah kuwi njalari Prabu Tawang Alun getun, Prabu Tawang Alun rumangsa salah  mateni adhine, dheweke dadi murung , mula kuwi prabu Tawang Alun banjur tapa, Prabu Tawang Alun tapa ana ing Gunung Raung.  sasuwene tapa Prabu Tawang alun keprungu swarane wong ngomong “HEI NGER ANAKKU, KOWE KOK KEPENAK-PENAKEN TAPA ING KENE, AGE SADARO MENGKO YEN ANA MACAN PUTIH MLAYU MRENE  KUWI KEWAN KANG BAKAL DADI KEDARAANMU, KENDARAAN SING NGANCANI KOWE SABENDINA”
Keprungu swara kaya mangkan Prabu  Tawang Alun banjur sadar  lan meruhi macan putih sing arep mateni Prabu Tawang Alun, pungkasane Macan Putih kalah lan lulut kaliyan Prabu Tawang Alun.
Nalika lagi mlaku karo Prabu Tawang Alun, Macan Putih mendhek ana ing salah sawijine panggonan desa kang asri,  mula panggonan kuwi dijenengi desa MACAN PUTIH kang ana ing kecamatan Kabat kabupaten Banyuwangi, jeneng Tawang Alun kuwi saiki digawe jeneng desa Tawang Alun ing kecamata Kabat lan didadekake  jeneng terminal Tawang Alun ing kecamatan Genteng. Bapak Narudin babarake yen patilasane kuwi ditemokake tahun 1964 liwat si mbahe bapak Narudin. Bapak Narudi mujudake juru kunci no 2 bibar bapake amarga juru kuncinepun dilakoni turun tinurun  

TRADISI PETIK LAUT PANTAI MUNCAR KABUPATEN BANYUWANGI


Dalam tiap bulan Muharam atau Syuro dalam penanggalan Jawa, bukan hanya petani, nelayan pun menggelar ritual untuk memohon berkah rezeki dan keselamatan. Waktu pelaksanaan petik laut tiap tahun berubah karena berdasarkan penanggalan Qamariah dan kesepakatan pihak nelayan. Biasanya digelar saat bulan purnama, karena nelayan tidak melaut, mengingat pada saat itu terjadi air laut pasang
Tujuan utama diadakannya ritual petik laut adalah untuk untuk memohon berkah rezeki dan keselamatan sekaligus ungkapan terima kasih kepada Tuhan.
Di Muncar ( sekitar 35 kilometer dari kota Banyuwangi ), ritual ini berkembang setelah kehadiran warga Madura yang terkenal sebagai pelaut. Tak mengherankan, jika petik laut selalu dipenuhi ornamen suku Madura. Salah satunya, seragam pakaian Sakera, baju hitam dan membawa clurit, simbol kebesaran warga Madura yang pemberani.
Seragam Sakera tersebut disiapkan khusus untuk upacara dan hanya dipakai sekali, jika ada upacara adat lain atau petik laut tahun depan, seragam harus dibuat lagi ,demi ke-sakralan upacara. Petugas Sakera dipilih yang berbadan besar. Biasanya mereka berpenampilan sangar dan angker. Dengan kumis tebal dan gelang besar, Sakera juga diharuskan berpenampilan lucu.
Sakera juga menjadi pengaman jalanya ritual. Mereka selalu berjalan di depan mengawal sesaji dari lokasi upacara ke tengah laut. Mereka mengatur warga yang ingin berebut naik perahu. Sakera mirip Pecalang di Bali. Sesepuh adat juga mengenakan baju Sakera, serba hitam. Bagian dalam kaus loreng merah putih. Udengnya batik merah tua.
Bagi nelayan Muncar, petik laut adalah gawe besar yang tidak boleh ditinggalkan. Hari yang dipilih bulan purnama Warga pantai Muncar masih merupakan orang jawa yang selalu menggunakan perhitungan dalam segala hal, maka tanggal, bulan masih ditentukan karena merupakan hitungan dari nenek moyang atau leluhur sebagai pusat kepercayaan, maka dengan dasar seperti itu tanggal pethik laut ditentukan, tepat tanggal 15 di penanggalan Jawa

Prosesi Ritual Petik Laut

Ritual diawali pembuatan sesaji oleh sesepuh nelayan. Mereka adalah keturunan warga Madura yang sudah ratusan tahun turun-temurun mendiami pelabuhan Muncar. Disiapkan perahu kecil ( perahu sesaji ) dibuat seindah mungkin mirip kapal nelayan yang biasa digunakan melaut. Pada malam harinya, di tempat perahu untuk sesaji dipersiapkan dilakukan tirakatan. Di beberapa surau atau rumah diadakan pengajian atau semaan sebelum perahu sesaji dilarung ke laut.
Perahu diisi puluhan jenis hasil bumi dan makanan yang seluruhnya dimasak keluarga sesepuh adat. Jenis makanan berbagai jajanan, nasi tumpeng dan buah-buahan, ditata rapi di perahu kecil tadi. Sesaji yang sudah jadi disebut gitek.
Pada hari yang ditentukan, ratusan nelayan berkumpul di rumah sesepuh adat sejak pagi. Mereka menggunakan baju khas Madura sambil membawa senjata clurit. Menjelang siang, sesaji diarak menggunakan dokar menuju pantai. Sepanjang iring-iringan, dua penari Gandrung ikut mendampingi. Bunyi gamelan Gandrung mengalun indah.
Nelayan menari sambil mengacungkan senjata cluritnya. Di depannya, dukun membawa abu kemenyan. Sambil melantunkan doa, dukun menyebarkan beras kuning simbol tolak bala.
Ribuan warga berdiri di sepanjang jalan mengamati perjalanan sesaji ( ider bumi ). Begitu lewat, warga berhamburan mengikuti di belakang menuju pantai. Arak-arakan berakhir di tempat pelelangan ikan ( TPI ), yang dihadiri jajaran Muspida Banyuwangi dan pejabat setempat.
Sesaji tiba disambut enam penari Gandrung. Setelah doa, sesaji diarak menuju perahu. Warga berebut untuk bisa naik perahu pengangkut sesaji. Namun, petugas membatasi penumpang yang ikut ke tengah.

Sebelum diberangkatkan, kepala daerah diwajibkan memasang pancing emas di lidah kepala kambing. Ini simbol permohonan nelayan agar diberi hasil ikan melimpah.
Menjelang tengah hari, iring-iringan perahu bergerak ke laut. Bunyi mesin diesel menderu membelah ombak. Suara gemuruh lewat sound-system menggema di tiap perahu.
Dari kejauhan barisan perahu berukuran besar bergerak kencang. Hiasan umbul-umbul berkibar menambah suasana makin sakral. Begitu padatnya perahu yang bergerak, sempat terjadi beberapa kali tabrakan kecil.
Iring-iringan berakhir di sebuah lokasi berair tenang, dekat semenanjung Sembulungan. Kawasan ini sering disebut Plawangan. Seluruh perahu berhenti sejenak. Dipimpin sesepuh nelayan, sesaji pelan-pelan diturunkan dari perahu. Teriakan syukur menggema begitu sesaji jatuh dan tenggelam ditelan ombak.
Begitu sesaji tenggelam, para nelayan berebut menceburkan diri ke laut. Mereka berebut mendapatkan sesaji. Nelayan juga menyiramkan air yang dilewati sesaji ke seluruh badan perahu. "Kami percaya air ini menjadi pembersih malapetaka dan diberkati ketika melaut nanti," kata Mat Roji, sesepuh nelayan Muncar.
Dari Plawangan, iring-iringan perahu bergerak menuju Sembulungan. Di tempat ini, nelayan kembali melarung sesaji ke dua kalinya. Hanya, jumlahnya lebih sedikit. Sebuah sasaji ditempatkan di nampan bambu dilarung pelan-pelan. Konon ini memberikan persembahan bagi penunggu tanjung Sembulungan.
Selesai larung sesaji, pesta nelayan dilanjutkan di pantai  Sembulungan. , ke Makam Sayid Yusuf, beliau adalah orang pertama yang membuka daerah tersebut. Disinilah biasanya tari Gandrung dan gending-gending klasik suku Using di pentaskan, hingga sore hari. Di tempat ini para nelayan juga mempersembahkan sesaji. Ritual diakhiri selamatan dan doa bersama.
Ritual petik laut wajib menghadirkan dua penari Gandrung yang masih perawan. Konon, ini berkaitan ritual petik laut pertama kali di Tanjung Sembulungan. Kala itu, seorang penari Gandrung mendadak meninggal dan dimakamkan di pinggir pantai. Sejak itu, petik laut wajib menghadirkan penari Gandrung. Memilih penari Gandrung yang berani ikut ke tengah laut dan mendampingi sesaji tidak gampang dan melalui seleksi khusus. Gandrung yang ikut mengarak sesaji hanya boleh sekali diundang. Tahun berikutnya akan diganti Gandrung lain.
Di sepanjang perjalanan, di atas perahu penari terus melenggang diiringi gamelan. Mereka melantunkan gending-gending Using. Isinya ungkapan suka-cita perayaan petik laut. Puluhan nelayan yang mengiringi gandrung ikut menari di atas perahu.
Biasanya sepulang pulang dari sembulungan perahu nelayan yang akan mendarat di guyur dengan air laut yang di gambarkan sebagai guyuran Shang Hyang Iwak, sebagai Dewi laut.
Tanggapan masyarakat sekitar dan warga pantai muncar bersifat positif, mereka setuju karena mereka percaya bila tidak melakukan tradisi tersebut alam akan marah dan tidak lagi memberikan hasil yang melimpah ruah. Maka tradhisi ini dilakukan setiap tahun tepat bulan sura.
            Dari laporan diatas dapat disimpulkan bahwa tradisi petik laut yang dilakukan di Pantai Muncar merupakan sebuah tradisi turun temurun, jika mereka tidak melakukan tradisi tersebut mereka percaya adanya naas atau bencana yang akan terjadi didalam desa tersebut, tanggal dan bulan itu merupan hari yang telah ditentukan oleh nenek moyang. Adapun tujuan dari tradisi tersebut adalah agar alam tetep memberikan hasil yang merimpah ruah, adapun alam agar tetap terjaga kelestarianya.


 erlik citra budiarti

TRADHISI MANTENAN “ADU TUMPER” ING KABUPATEN BANYUWANGI


Nama          : Erlik Citra Budiarti
Nim            : 102114234
Kelas          : 2010B

TRADHISI MANTENAN “ADU TUMPER” ING KABUPATEN BANYUWANGI

          Saka tembung “adu” lan tumper, ing Banyuwangi “adu” tegese diadu utawa ditepangake antarane kekarone “tumper” yaiku bara api ing sebatang kayu bakar sing digawe gendhok kang diarani bongkok, Adu tumper yaiku nglebokake rong tumper utawa bongkok kasebut dilebukake wadah lan diobong.
          Adu tumper nduweni teges yaiku tetepangane perjaka kaliyan perawan, prosesi adu tumper dilakoni kaliyan manten kang nduweni status anak mbarep. Adu tumper dilakoni sawise akad nikah wektu surup
Prosesi Adu Tumper ing antarane yaiku
1.     Persiapane Manten
Kanthi Musik Khas Banyuwangi miwiti prosesi Adu tumper, Perias nyipakake perlatan ing sawijine adah kang isine kembang setaman kang dijangkepi kaliyan suwer penyiram, tumper, perepen lan kain lawon utawa kafan, sepasang kelapa gadhing kang ana ukirane Rama kaliyan Shinta, sapasang colok lan kupat luwar, beras kuning poletan, buras kuning kanthi dhuwit logam lan blencong sawise kabeh kuwi jangkep keprungu swaara hadrah pratanda iringane manten lanang, banjur manten putri nyipakake awak.



2.     Tekane Manten Lanang
Iring-iringane  manten lanang diwiwiti kaliyan tarian rondat nari sadawane dalan kanthi gerakan khusus seangga bentuk dalan anatarane manten lanang lan wadon  saka mburi ditutne manten lanang saka tandu, perlengkapan kaya peningset, rampadan, bokor kendi, bantal klasa, pikulan punjeng, tumper lan ana perwakilan saka manten lanang kayata pakdhe lan budhene lan ing burine  penari rodat, wektu manten lanang teka manten wadon nemoni manten lanang lan milu munggah tandu banjur dikirap.
3.     Aktrasi Kekaro Pawang
Sawise kirap rampung,  lan dilanjutake kaliyan aktrasi kekaro pawang, kekaro pawang makili wong tuwa manten lanang lan wadon minangka penemu.
4.     Acara Temon
Ing acara iki pawang dipimpin kaliyan juru rias nemokake kekaro mempelai minangka tetepangane kekaro manten lanang lan wadon kanthi nemokake jempolan sikil kanthi mempelai sinimabi didogani.
5.     Acara salam Kobul
Sawise acara temon banjur diterusakake kanthi acara Salam Kobul dipimpin kaliyan juru rias, kekaro mantenan nyuwun do’a restu marang wong tuwane (sungkem) kanthi nyuwun do’a restu supaya dikabulne kakarepane.
6.     Acara Kupat Luwar
Kekaro wong tuwa nglakoni acara iki kanthi bathek ujung ketupat, ketupat kuwi isine beras kuning supaya kebukak lan beras kuning kuwi semburat, kanthi kupat luwar tujuwane “ngluwar” yaiku  bikak kabeh kang katutup lan tujuwane ngilangi kabeh balak sadurunge bukak urip bebrayan.

7.     Acara Ngosek Pojen
Acara iki dilakoni kanthi cara, salah sawijine pawang depek kain lawon kang digawe gendhong pujen , ing ngarep pelaminan didepekne amba, banjur manten adep-adepan ing ngarepe lawon lan ditutake kaluwargane, salah sawijine pawang depekake isi kantongan kasebut isine sandak salawe lan ndhuwit asile mupu ing kain lawon dikosek munyer
8.     Adu tumper
Acara iki yaiku acara pokok yaiku nepangake kekalih tumper  ing bara apine banjur dipateni kathi banyu kembang setaman “suwur” adat menika nglambagake supaya kekaro manten bisa nyawijikake pambedha sajrone urip bebrayan.
9.     Acara Poletan
Sawise adu tumper  banjur nganakake acara poletan yaiku mempoleskan campuran tepung beras kuning kang wis disipake lan diolesake menyang sikile manten lanang lan wadon pratanda manten lanang lan wadon sah dadi suami-istri
10.                        Nglangkahi Tumper
Kekaro mempelai  mlaku jejer nglangkahi tumper mlaku menyang pelaminan lungguh bareng minangka raja lan putri ngergani tamu undangan


 30 04 2013 (Tugas Akhir  Tradhisi  Jawa Semester 6)

SUMUR RANDU 3 UTAWA SUMUR AJAIB Ing Desa Sumberasri . Kec Purwoharjo Kab . Banyuwangi

Nama : Erlik Citra Budiarti ( 102114234)
Kelas : 2010 B


SUMUR RANDU 3 UTAWA SUMUR AJAIB
Ing Desa Sumberasri . Kec Purwoharjo Kab . Banyuwangi


Papan wisata bedhul menika yaiku papan kang isih anyar ing provinsi Jawa Timur . Papan menika kang kasebut “wisata bedhul “ utawi  “Hutan magrove”
Papan wisata bedhul menika wonten ing Dsn. Bloksolo Desa Sumberasri Kec. Purwoaharjo Kab. Banyuwangi. Kathah tiyang kang nekani wisata menika kanggo ngrasake endahing wisata menika.
Kejaba pangenan kang asri lan endah, ing sisih pojok kiwane wisata bedhul menika wonten sumur kang bisa diarani sumur randu 3.  Sumur kang dibagun saking pengeboran sasuwene 3 dina lan ana ing ngisore wit randu cacahe 3  . Mula dijenengi sumur randu 3. Tujuwanipun bangun sumur menika yaiku perlangkapanipun wisata, lan panggenan wudhu . Sumur kang dibangun 3. Mula dijenengi Sumur Randu 3  tahun 2009. Wiwitan sumur menika namung kanggo sarana – prasarana wisata bedhul, nanging salah sawijine dina wonten salah suji masyarakat kang nunut adhus, tiyang menika crita yen anduweni lara “asam Urat” saksampunipun adhus nganggo banyu sumur menika, tiyang niku kandha yen dheweke ngarasake kapenak banjur waras.saksampunipin kadadeyan menika salah sijine warga kang sampun nginakaken banyu sumur iku nyembaraken keajaibane sumur menika (kandhane salah suwijine penjaga wisata ).
Saksampunimpun kadadeyan menika wartanipun sumebar ing daerah liya.  Kathah masyarakat pada nekani lan ngarasakake manfaate sumur menika, mangka sumur menika , pupuler jenenge sumur Ajaib amergi bisa marasake penyakit – peyakait utamaning lara Gatel – gatel. Yen banyu iki bener – bener gawe waras mangka , tiyang – tiyang menika nyukani artha ing kotak amal, miturut salah suwijine panjaga wisata menika kathah ingkang nyukani artha lan kathah ingkang waras saksampunimpun ngango banyu kasebut.  Saka Sumbangan Banyu menika sumur ajaib saged agsal 500.000/ minggu


Miturut salah suwijining penjaga pantai , Sumur iki isih dadi misteri amergi apa pancen bener – bener sumur iki ajaib utawi asil alami saka kakeyaane alam amergi kita inggih magertosi yen panggenan sumur menika wonten ing alas baku dados kathah  miniral kang kinandhut saka banyu kasebut.


DITULIS 26 DESEMBER 2011 (TUGAS AKHIR SEMESTER 3)

Umpak Songo Yang Terlupakan Muncar Banyuwangi

     Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, memiliki situs sejarah yang diyakini berkaitan erat dengan kerajaan Blambangan. Sebut saja seperti situs Umpak Songo. Situs Setinggil. Bale Kambang dan Gumuk Sepur.
     Selain situs-situs itu, tak terhitung pula banyak  warga yang menemukan berbagai benda-benda purbakala, aneka keramik,patung, uang kuna dan segala benda yang berkaitan sebagai petujuk adanya kehidupan masa kuna. 
    sayangya kekayaan sejarah itu dalam kondisi yang menghawatirkan. Keberadaan situs-situs terancam oleh tingkah laku manusia yang mengubah fungsinya menjadi pemukiman dan pertanian. Benda-benda purbakala juga diperjual belikan secara bebas. namun kita belum melihat adanya perhatian dari Pemerintah Banyuwangi.
    Dari banyaknya situs sejarah di Kecamatan Muncar. penulis hanya menekankan pada situs Umpak Songo, yang terletak di desa Tembokrejo. Muncar Banyuwangi.  Situs Umpak Songo salah satu situs peninggalan jejak fisik kehidupan kuna. Situs Umpak Songo terdiri dari puluhan batu-batu besar yang tertata rapi membentuk persegi. Batu-batu itu ada yang berlubang ditengahnya ada yang pepat. 
     Disebut Umpak Songo berasal dari kata Umpak yang berati penyangga dan songo berati sembilan. sehingga umpak songo berati pula penyangga yang berjumlah sembilan. Nama Umpak Songo diambil setelah ditemukanya batu besar yang berlubang ditengahnya, Lubang inilah yang digunakan untuk menancapkan bangunan. 
    Juru kunci situs Umpak Songo, Mbah Soimin bercerita sekitar tahun 1916 seorang bernama Mbah Nadi Gede dari Yogyakarta membabat tempat ini, tempat ini awal mulanya adalah hutan, setelah dibabt terlihatlah situs ini, 
    Tahun 1928 datang seorang raja dari Solo, Mangku Bumu IX yang mengungkapkan bahwa tempat yang ditemukan Mbah Nadi Gede itu merupakan sisa-sisa kerajaan Blambangan, Mangkubumi IX yang kemudian datang memberikan nama Umpak Songo. 
    Ketika Kerajaan Blambangan masih berjaya, situs seluas 30x20 meter ini diyakini berfungsi sebagai tempat untuk merundingkan segala sesuatu strategi perang yang akan digunakan untuk menyerang kerajaan lain. dulu tempat ini adalah pusat kerajaan Blambangan. Kata Soinim keturunan ketiga Mbah Nadi Gede.
    Menurut Penelitu dari Universitas Gajah Mada Yogyakarta, Sri Margana, ibu kota kerajaan Blambangan dulunya berpidah sampai enam kali. Muncar, menjadi ibu kota pemerintah terakhir sebelum akhirnya dipindahan ke kota Banyuwangi (Majalah Tempo, 13 September 2010).
     Perpindahan ini akibat mewabahnya penyakit yang menyerang ibu kota Blambangan sebelumnya di Lateng (Rogojampi). Alasan lainya Muncar dianggap strategis karena memiliki Pelabuhan Pampang, sebuah pelabuhan Internasional yang ramai dikunjungi pedagang dari luar daerah. Namun karena akhirnya penyakit itu menular dan mewabah, ibu kota Blambangan yang saat itu dipimpin Mas Alit, Pindah ke Banyuwangi 21 September 1774.
    Puncak keramaian situs Umpak Songo adalah ketika hari raya Kuningan. Banyak umat Hindu yang datang berkunjung untuk melakukan persembahyangan .dan setiap Sabtu Pahing, warga sekitar Umpak Songo menggelar ritual berupa tirakatan semalam suntuk, Ritual ini digunakan untuk meminta berkah keslamatan.
    Umpak Songo baru sekali direnovasi yang dilakukan pada masa Bupati Ratna Ani Lestari berupa pembangunan gerbang atau benteng yang membatasi situs Umpak Songo.

Ayo Nguri-Uri Peninggalan Kerajaan Blambangan 





Asal-usul Kesenian Barong Kemiren

ASAL USUL KESENIA BARONG MASYARAKAT KEMIREN BANYUWANGI


Barong mujudake salah sawijine kabudayan kang isih ngrembaka ing Banyuwangi mligine desa Kemiren. Era globalisasi ora ngowahi masyarakat kemiren nyengkuyung kabudayan kang wis dadi turun temurun. Barong Kemiren nduweni wujud kaya ta kewan kang nduweni rupa ala. Barong Kemiren mujudake simbolik urip masyarakat kemiren. 
 Miturut salah sawijine budayan Banyuwangi Hasnah Singodimayan mula bukane Barong Kemiren saka carita nene moyang rikala biyen. ing jaman biyen ana pawongan ayu asamane Ja'rifah. Ja'rifah minangka pawongan kang rupane ayu, mula akeh wong sing nggoda. amarga rupane sing ayu kuwi mula Ja'rifah dijaga karo Barong. Barong mujudake kewan sing rupane ala, krana rupane ala akeh sing wedi, senajan ala barong nduweni rasa welas asih, jaga Ja'rifah. Mula Barong diarani simbol kepahlawanan
Yen miturut Ki Galih Kidung mula bukane barong Kemiren saka tradhisi Cina. Ing abad VII nganti abad X barong china mlebu ing jaman Majapahit. Barong Kemiren isih kabur asal usule. Akeh masyarakat mangerteni yen Barong kuwi mujudake kesenian khas Bali. Senajan Banyuwangi nduweni kesenian Barong, kuwi isih ana sesambungane karo tlatah Bali. 
Crita liya ngenani mula bukane Barong Kemiren saka Bapak Sujipta guru kesenian SMA Negeri 1 Purwoharjo. Miturut bapak Sujipta ing tahun1647, ana pawongan kanthi asma mbah Tompo kag ngimpi njaluk digawekne barong. Mimpi iku dianggpe pitutur ghoib. Sesuke Mbah Tompo karo Mbah Shoib nggawe Barong bareng. 
Saka carita-carita kana mau mula Barong dianggep warisan lelehur. Nganti saiki Barong isih diuri-uri ing masyrakat Kemiren. Kesenian Barong dianggep isih ana sesambungane karo patilasae mbah Chili. Mbah Chili mujudake pawongan kang babat alas desa Kemiren. Mula Barong Kemiren isih dibabar ing acara ritual Ider Bumi saben sasi Syawal.